Backpacker Seru di Air Terjun Sendang Gile: Petualangan Alam yang Bikin Ketagihan

Backpacker Seru di Air Terjun Sendang Gile: Petualangan Alam yang Bikin Ketagihan

Perjalanan ini bermula dari keisengan iseng saya dan dua teman dekat yang tiba-tiba ingin kabur sejenak dari rutinitas kantor. Tujuannya? Nggak mewah, nggak ribet. Kami cuma ingin udara segar, suara alam, dan tempat yang bisa bikin badan dan pikiran kembali segar. Setelah diskusi singkat di kedai kopi dan buka-buka Google Maps, pilihan jatuh ke satu nama yang terus disebut-sebut oleh para pencinta alam: Air Terjun Sendang Gile.

Awalnya saya pikir ini cuma satu dari sekian banyak air terjun biasa di Lombok. Tapi ternyata, perjalanan ke sana—terutama buat kami yang bergaya backpackeran—jadi salah satu momen paling memorable dalam hidup.

Rencana Sederhana, Semangat Menggebu

Kami memulai perjalanan dari Mataram. Karena ingin tetap fleksibel, kami putuskan buat bawa kendaraan sendiri. Tapi bukan motor, karena kami bawa barang lumayan banyak dan cuaca agak mendung. Akhirnya kami cari sewa mobil Lombok dan dapat mobil dengan sopir yang juga ternyata cukup ngerti soal jalur wisata alam di Lombok Utara.

Dari situlah semuanya mulai terasa asik. Jalanan dari Mataram ke Senaru cukup berliku tapi pemandangannya luar biasa. Dari perbukitan hijau, lembah, sampai ladang-ladang warga yang seolah menyambut kami dengan tenang. Di sepanjang jalan, kami sempat berhenti beberapa kali buat foto-foto dan jajan makanan lokal seperti sate pusut dan jagung bakar.

Sampai di Senaru: Desa Sejuk di Kaki Rinjani

Sesampainya di Senaru, kami langsung merasa beda. Udara lebih dingin, angin sepoi-sepoi, dan suasana desa yang masih sangat alami. Kami memutuskan istirahat sejenak di sebuah warung kecil, minum kopi hitam dan ngobrol sama bapak pemilik warung yang ternyata dulunya sering jadi guide trekking Rinjani. Beliau cerita banyak soal kawasan ini, termasuk legenda di balik nama “Sendang Gile” yang katanya berasal dari kisah orang gila yang dikejar singa, lalu masuk ke dalam hutan dan menemukan air terjun ini secara tak sengaja.

Namanya juga backpacker, kami nggak terlalu ikut tour, tapi tetap pakai pemandu lokal biar jalannya aman dan nggak nyasar. Setelah itu, kami mulai trekking ke lokasi air terjun.

Trekking Sambil Ketawa, Jantung Ikut Berdebar

Trekking menuju Sendang Gile itu bukan yang berat banget, tapi tetap bikin keringetan. Jalurnya menurun, ada anak tangga dan jalur setapak yang dikelilingi pohon-pohon tinggi. Di sepanjang jalan, suara burung, aliran air, dan dedaunan yang bergesekan jadi semacam soundtrack alam yang bikin hati tenang.

Teman saya sempat tergelincir sedikit karena tanah agak basah, tapi bukannya panik, malah ketawa-ketawa karena sepatunya jadi penuh lumpur. Kami juga sempat duduk sebentar di bebatuan sambil buka bekal roti dan cokelat, rasanya lebih nikmat dari makan di kafe.

Sendang Gile, Akhir dari Perjalanan dan Awal Kekaguman

Begitu sampai, kami cuma bisa berdiri sebentar tanpa suara. Di depan kami, Air Terjun Sendang Gile berdiri dengan megah. Airnya jatuh dari tebing tinggi, membentuk tirai putih yang mengalir deras ke kolam di bawahnya. Di sekitarnya, dinding-dinding hijau dari tumbuhan liar dan lumut membuat suasana jadi seperti masuk ke dunia lain.

Kami langsung lepas alas kaki, masuk ke air. Dingin banget! Tapi menyegarkan. Saya duduk di batu besar, sambil memandangi air jatuh dengan pikiran kosong. Semua penat hilang. Semua rutinitas yang melelahkan, seolah dilarutkan oleh aliran air yang tidak pernah berhenti.

Momen yang Spontan Tapi Mengikat

Di dekat kolam, ada dua backpacker bule yang sedang membuat kopi dengan peralatan outdoor mereka. Kami pun ikut ngobrol, saling tukar cerita soal perjalanan. Lucunya, mereka mengira kami dari Jakarta karena katanya logat kami mirip YouTuber travel ibukota. Kami tertawa bareng, dan akhirnya minum kopi bareng sambil lihat pelangi kecil muncul di tengah cipratan air terjun.

Momen-momen kayak gini yang bikin backpackeran itu beda. Nggak semua harus direncanakan. Kadang yang spontan justru paling dikenang.

Tips dari Pengalaman Pribadi

Kalau kamu juga mau backpackeran ke Sendang Gile, beberapa hal yang bisa saya rekomendasikan:

  • Bawa baju ganti dan handuk kecil. Nggak mandi di air terjunnya pun, pasti bakal basah.

  • Gunakan alas kaki yang nyaman buat trekking, sebaiknya bukan sandal biasa.

  • Jangan lupa powerbank, sinyal di beberapa titik agak sulit.

  • Datang pagi hari biar bisa lebih puas menikmati tempat tanpa ramai.

  • Dan yang paling penting, jangan buang sampah sembarangan. Tempat ini terlalu indah untuk dikotori.

Pulang dengan Hati Penuh

Perjalanan pulang ke Mataram kami lalui dalam keheningan. Bukan karena lelah, tapi karena semuanya masih larut dalam pengalaman. Seolah setiap orang tenggelam dalam pikirannya sendiri, mengulang-ulang kembali momen tadi siang.

Satu hal yang pasti, Sendang Gile bukan sekadar objek wisata. Ia adalah tempat untuk kembali menyatu dengan alam. Dan buat kami yang biasa hidup di tengah beton dan deadline, pengalaman seperti ini adalah pengingat bahwa hidup bisa sesederhana duduk di pinggir air terjun, menyesap kopi, dan merasa cukup.